Minggu, 16 April 2017

Erdogan Menang Referendum, Turki Beralih ke Sistem Presidensial


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Binali Yildrim mengumumkan kemenangannya dalam referendum Turki yang menggantikan sistem parlemen yang saat ini dianut negara tersebut dengan sistem presidensial.

Perubahan sistem pemerintahan tersebut memungkinkan Erdogan memperoleh kekuasaan lebih luas.
Pernyataan kemenangan itu diumumkan, meski Komisi Pemilihan Turki belum merilis hasil resmi. Namun menurut kantor beritar Anadolu, jumlah suara yang telah dihitung sebesar 99,8 persen dan Erdogan memperoleh 51,4 persen suara.

Presiden Dewan Pemilihan Agung Sadi Guven menegaskan, pilihan 'ya' -- mengubah sistem pemerintahan ke presidensial-- telah menang. Dia mengatakan, hasil resmi akan keluar dalam kurun 10 hari setelah sejumlah keberatan telah dipertimbangkan.

"Dengan izin Tuhan, hasil ini akan menjadi awal dari sebuah era baru di negara kita," kata Erdogan dalam konferensi pers 16 April 2017 malam seperti dikutip dari CNN, Senin (17/4/2017).
Sementara itu PM Yildirm mengatakan, mereka yang memilih 'ya' dan 'tidak' akan tetap menjadi satu. Ia menambahkan, Turki akan berupaya untuk meningkatkan ekonomi, mempercepat pengembangan, dan melawan musuh-musuh asing serta domestik.

"Tak ada satupun yang harus tersinggung atau patah hati," ujar Yildirm. "Tidak ada kata berhenti. Kita akan terus melanjutkan jalan kita. Kita akan terus berjalan dari tempat kita meninggalkannya."
Menurut Anadolu, pemimpin negara dari Azerbaijan, Palestina, Qatar, Pakistan, Hungaria, Macedonia, Arab Saudi, Sudan, dan Kenya memberikan ucapan selamat atas hasil referendum kepada Kementerian Luar Negeri Turki.

Hasil Referendum Jadi Pesan bagi Dunia
Sesaat sebelum PM Yildrim mengumumkan kemenangan bagi Erdogan, ribuan orang berkumpul dalam perayaan di kantor pusat Partai Keadilan dan Pembangunan atau AKP di Ankara yang didirikan Erdogan.

Mereka menari, bernyanyi, meneriakkan yel-yel, menyalakan kembang api, membunyikan klakson mobil, dan melambaikan bendera Turki bersama dengan bendera bertuliskan 'Evet' -- berarti 'ya' dalam Bahasa Turki.

Banyak dari mereka melihat hasil referendum Turki sebagai pesan penting, tak hanya bagi negara, tapi juga dunia. Seorang warga bernama Yalcin (24), mengatakan bahwa hasil tersebut merepresentasikan harapan baru untuk Turki untuk menyingkirkan kekuatan asing.

Sementara itu Yusuf Basaran (20) mengatakan, dirinya meyakini referendum tersebut akan menjadi hal yang paling efektif dalam melahirkan kembali Kekaisaran Ottoman.

"Untuk Negara Islam yang lebih kuat, untuk Timur Tengah yang kuat, Turki harus mengubahnya menjadi sistem eksekutif presidensial. Ini adalah pesan bagi dunia untuk diam; Turki akan semakin kuat. Amerika harus tahu ini juga. Kami adalah suara, telinga, dan segalanya untuk Timur Tengah," ujar seorang anggota cabang perempuan AKP, Aysel Can.

Rabu, 12 April 2017

Sepeda Unik Ini Tak Butuh Rantai


Dulu sekali, sepeda tidak memakai rantai, namun roda penggerak dibuat sangat besar sehingga tempat duduk pengemudi menjadi sangat tinggi dan ada risiko jatuh hingga cedera.
Kemudian, diciptakanlah sepeda dengan rantai penggerak.
Tapi, rantai sepeda terkadang malah merepotkan karena harus selalu dibersihkan dan diberi pelumas -- yang mengotori ketika tersentuh.

Ada beberapa alternatif mengunakan sabuk atau bahkan alternator, tapi seorang pencipta bernama Sean Chan dari Venice, Florida, Amerika Serikat, memiliki gagasan lain.
Dikutip dari New Atlas pada Rabu (12//4/2017), sepeda tidak berantai itu dinamainya Chainless Bike yang berarti, begitulah, "sepeda tak berantai."

Namun demikian berbeda dengan Hank Direct Bike besutan Bygen, sepeda ciptaan Chan menempatkan pengendara sepeda bukan di posisi tengah, tapi di atas roda belakang.
Penggerak juga berada di roda belakang dan mencakup sistem gigi internal sehingga satu kayuhan pengendara tidak hanya satu putaran roda agar tidak melelahkan.

Pengendara Chainless Bike juga bisa sejenak berhenti mengayuh dan meluncur begitu saja.


Salah satu kemudahan yang menarik adalah Rapid Turning System. Ketika diaktifkan, roda belakang melakukan pivot secara relatif terhadap rangka, sebagaimana pivot roda depan di sepeda konvensional.

Kemudahan itu memungkinkan sepeda melakukan belokan tajam dan beberapa hal lainnya.
Sepeda itu akan dibuat dalam versi biasa maupun versi lipat dan sekarang sedang mengunggu pendanaan melalui kampanye Kickstarter.

Harga bagi para pendukung permodalan dimulai dari US$799, sedangkan harga eceran nantinya diperkirakan pada angka US$ 1000.

Selasa, 11 April 2017

Hormon Seksual Jadi Alasan Wanita Lebih Takut Laba-Laba?


Seberapa berani Anda mendekati laba-laba besar dan berbulu?
Kebanyakan orang mungkin memilih menjauh, tapi bagi 5 persen populasi yang memiliki ketakutan dengan laba-laba begitu besar bisa berdampak mengganggu kehidupan sehari-hari.

Mereka mengalami arachnophobes atau fobia laba-laba, dan mayoritasnya adalah perempuan. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan sebanyak 90 persen penderitanya adalah kaum hawa.
Para peneliti di University of New South Wales (UNSW) Australia berpendapat, bahwa hormon seks perempuan menjadi faktor penyebab ketidakseimbangan tersebut.

Mereka sedang menyelidiki apakah perempuan lebih mungkin membangun rasa takut pada laba-laba, dan kurang mau mengobati kegelisahan mereka ketika mengalami siklus menstruasi di mana tingkat hormon seksual berada di titik terendah.

Sebanyak 90 perempuan turut ambil bagian dalam penelitin di UNSW mengenai peran hormon dalam arachnophobes. Salah satunya adalah Briana Clifford yang selalu takut pada laba-laba.
"Saya mengira normal saja jika takut dengan laba-laba sepanjang waktu," kata Briana seperti dikutip dari ABC Australia, Selasa (10/4/2017).

"Ayah saya tidak takut laba-laba. Saya selalu pikir hal itu sangat aneh ketika dia menyingkirkan laba-laba untuk kami, menyentuh mereka dan hal semacam itu," ujar Briana.
"Saya jadi terdengar agak gila namun selalu melakukan hitung mundur seberapa lama sejak saya bertemu dengan laba-laba," kata Briana.
"Saya merasa semakin lama jarak insidennya, semakin besar kesempatanku melakukan kontak dengan laba-laba," tambahnya.

Dia kini mencoba menghentikan dirinya dari perilaku menghindar secara berlebihan. Meski begitu ketakutan dengan kontak berikutnya, sampai harus memeriksa di bawah tempat tidur dan di setiap sudut dan celah mobilnya sebelum mengendarainya.
"Saya tahu sebagian besar laba-laba tidak beracun. Saya tahu hal itu. Mereka mungkin tidak akan menyakiti saya. Tapi lebih pada antisipasi dan kecemasan laba-laba akan menyentuhku atau berjalan ke arahku," beber Briana.

Briana juga telah melakukan terapi laba-laba dengan psikolog klinis di UNSW. Terapi ini pertama-tama membicarakan apa sebenarnya yang ditakuti pasien akan terjadi jika mereka menemukan makhluk itu.
Dr Bronwyn Graham, seorang dosen senior di Jurusan Psikologi UNSW, mengatakan informasi tersebut sangat penting.

"Karena daripada mengekspos orang pada laba-laba, kami ingin mengekspos mereka pada kemungkinan yang mereka takuti,"tutur Graham.
Sesi yang diikuti Briana Clifford pertama-tama mengamati laba-laba jenis St Andrews Cross, kemudian mengambilnya menggunakan kartu pos dan cangkir, lalu menyentuhnya, dan akhirnya membiarkannya merangkak di tangan.

Dia berulangkali bersandar ke kursinya, melompat dan menjerit beberapa kali, serta gemetaran saat dia memegang laba-laba tersebut dalam cangkir.
"Pertama jangan lari, termasuk bersandar ke belakang. Dan kedua adalah jangan menggambarkan laba-laba sebagai makhluk menjijikkan," jelas Graham.

Para psikolog menyebutkan sesi seperti ini, yang bisa sampai pasien akhirnya menyentuh laba-laba berbulu, bisa butuh waktu lama bagi penyembuhan seseorang dari arachnofobia.
Sekitar 40 persen orang tidak berkurang rasa cemasnya setelah terapi eksposur atau paparan seperti itu. Namun para peneliti UNSW berharap bisa menunjukkan bahwa hasil yang lebih rendah pada perempuan, terkait dengan tingkat hormon seksual yang rendah.
Jika hal itu terbukti, pengobatan bisa dijadwalkan pada waktunya saat siklus ketika tingkat hormon seksel perempuan lebih tinggi.

Untuk perempuan dengan tingkat estradiol rendah dan telah melalui menopause, hormon dapat diberikan sebelum sesi terapi dimulai.

"Jika kami menunjukkan adanya fluktuasi dalam menanggapi pengobatan disebabkan kadar hormon, maka hal itu pasti berimplikasi besar pada bagaimana kita harus mengobati perempuan nantinya," kata Dr Bronwyn Graham.

Untuk Ellen Fawcett, peserta yang juga turut ambil bagian dalam penelitian di UNSW ini, sesi terapi pemaparan dua jam telah menunjukkan hasil yang luar biasa.
Mahasiswa jurusan pekerja sosial ini mengalami peningkatan dari tadinya tidak bisa melihat laba-laba sampai ke tahap membiarkan laba-laba merangkak di tangannya.
"Saya merasa seperti telah menaklukkan dunia," ujar Ellen bersemangat.

Senin, 10 April 2017

Tahun Lalu, Jumlah Eksekusi Hukuman Mati di Dunia Menurun


Amnesti Internasional, Selasa (11/4/2017), mengatakan, sepanjang tahun lalu jumlah eksekusi hukuman mati di seluruh dunia menurun.

Organisasi pejuang HAM ini menyebut, tahun lalu sebanyak 1.032 orang terpidana mati menjalani eksekusi. Angka ini menurun 37 persen dibandingkan 2015.

Namun, masih menurut Amnesti, di tengah penurunan jumlah eksekusi hukuman mati itu China masih menjadi negara dengan jumlah eksekusi terbanyak di dunia.

Jumlah hukuman mati di China tak bisa diketahui pasti, tetapi berdasarkan angka catatan pengadilan dan pemberitaan, diperkirakan "ribuan" orang dieksekusi di negeri tersebut.

China, bersama IranArab Saudi, dan Irak "menyumbangkan" 87 persen angka eksekusi hukuman mati di seluruh dunia tahun lalu.

Amnesti menemukan bahwa, sejumlah catatan hukuman mati terutama yang melibatkan warga asing di China dihapuskan dari catatan pengadilan.

Hal ini, lanjut Amnesti, diduga dilakukan untuk menyembunyikan angka eksekusi sesungguhnya di negeri Tirai Bambu itu.

Apalagi, partai komunis yang berkuasa di China menganggap angka hukuman mati merupakan rahasia negara.

"China adalah satu-satunya negara yang sepenuhnya merahasiakan eksekusi hukuman mati," kata Direktur Asia Timur Amnesti Internasional Nicholas Bequelin dalam jumpa pers di Hongkong.

"Mungkin sebabnya adalah angkanya terlalu tinggi dan China tak mau diasingkan dunia," tambah Bequelin.

Amnesti menambahkan, meski media lokal di China menyebut setidaknya 931 terpidana mati dieksekusi pada 2104-2015, hanya 85 eksekusi saya yang tercatat dalam basis data online.

Sejumlah kelompok pegiat HAM lain juga menyebut jumlah eksekusi hukuman mati di China berjumlah hingga ribuan.

Pada 2013, Mahkamah Agung China memutuskan bahwa vonis hukum harus dipublikasikan, tetapi banyak perkecualian dalam keputusan tersebut termasuk kasus-kasus yang melibatkan rahasia negara dan privasi personal.

Tingkat vonis di pengadilan-pengadilan China mencapai 99,92 persen tetapi dikhawatirkan sebagian vonis itu salah dijatuhkan.

Penyebab kekhawatiran tersebut adalah kebiasaan polisi memaksakan pengakuan dan minimnya pembelaan di dalam pengadilan kasus kriminal.
Pada Desember 2016, pengadilan di China membersihkan nama seorang pria yang sudah dieksekusi 21 tahun lalu karena dituduh melakukan pembunuhan.
Nama pria yang terlanjut meninggal dunia itu dibersihkan karena pengadilan akhirnya menyebutkan minimnya bukti.



Minggu, 09 April 2017

Ironis, Presenter Ini Bacakan Berita Kematian Suaminya Sendiri


Seorang presenter TV berita di India dipuji sebagai perempuan tegar oleh koleganya setelah mengetahui kematian suaminya lewat acara yang sedang ia pandu.

Supreet Kaur, sang presenter, membacakan obituari suaminya, Harsad Kawade, setelah reporter lapangan mengabarkan informasi mengenai sebuah kecelakaan mobil fatal yang menewaskan tiga orang dan dua luka, seperti yang diwartakan Independent, Minggu, (9/4/2017). 

Perempuan berusia 28 tahun itu sontak menyadari bahwa kecelakaan itu melibatkan suaminya. Karena, menurut sepengetahuannya, Kawade turut bepergian bersama empat orang dan menggunakan jenis mobil serta rute perjalanan yang sama dengan yang dilaporkan oleh reporter lapangan.

Presenter dengan pengalaman 9 tahun itu nampak tegar meski harus membacakan berita nahas tentang kematian suaminya. 

Barulah setelah acara selesai, Kaur segera keluar kantor dan menangis hebat, menumpahkan kesedihannya.

Editor televisi India tempat Kaur bekerja mengetahui berita tentang kematian suami presenter itu sebelum pembacaan berita berlangsung. Namun, si editor tak sampai hati mengatakan kepada si perempuan tegar itu.

"Sungguh ia sangat tegar. Kami bangga sekaligus berduka kepadanya," ujar salah satu kolega Kaur kepada Hindustan Times seperti yang dikutip Independent.

Kamis, 06 April 2017

'Perang' Mode Ratu Rania Vs Melania Trump, Siapa Menang?


Donald Trump kembali menerima kunjungan resmi kepala negara asing. Kali ini yang bertandang ke Washington, Amerika Serikat, adalah Raja Yordania Abdullah II dan istri, Ratu Rania.
Saat para suami berbincang di Gedung Putih, Melania dan Ratu Rania mengadakan kunjungan ke sebuah sekolah di daerah miskin di Washington DC. Kedatangan mereka ke Excel Academy tersebut disambut dengan karangan bunga oleh sejumlah siswi.

"Sungguh indah, terima kasih," ujar Melania kepada siswi bernama Danielle Chatman seraya memeluk gadis itu seperti dilansir CNN, Kamis, (6/4/2017).
Di sekolah khusus perempuan tersebut, kedua wanita berpengaruh di dunia itu berpartisipasi dalam sesi diskusi dan mengunjungi sejumlah ruang kelas.
Ratu Rania dikabarkan antusias bertanya tentang misi keterampilan hidup yang ditanamkan oleh pihak sekolah.
"Kami percaya ketika mendidik seorang perempuan, sesungguhnya kita mendidik sebuah keluarga, sebuah komunitas," ujar CEO sekolah Deborah Lockhart.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengutuk serangan senjata kimia mematikan di Idlib, Suriah. Trump menyebut serangan itu sebagai 'hinaan bagi kemanusiaan'. 
Pernyataan Presiden Trump diungkapkan dalam konferensi pers saat kunjungan kenegaraan Raja Yordania Abdullah II ke Gedung Putih.

Trump menjelaskan bahwa serangan yang menewaskan 100 jiwa dan melukai sekitar 350 orang itu --termasuk di antaranya adalah anak-anak-- sebagai sebuah insiden mengenaskan.
Dalam kesempatan yang sama, presiden AS itu juga mengungkapkan akan mengubah kebijakan politiknya terhadap Suriah.

"Adalah sangat mungkin jika sikap saya kepada Assad telah berubah. Tindakan keji yang dilakukan rezim Assad itu tidak dapat ditoleransi," ujar Trump seperti yang dikutip VOA, Kamis, (6/4/2017). 
Presiden ke-45 AS itu juga mengumbar memiliki rencana untuk Suriah dan Assad. Namun rencana seperti apa yang akan disiapkan dan kapan rencana itu akan dieksekusi oleh pemerintahan Trump masih belum jelas.

"Kalian akan lihat. Mereka akan mendapatkan pesannya. Kalian akan lihat seperti apa pesannya...saya tak akan mengatakannya dalam waktu dekat ini," ujar Trump.
Ia juga menolak menjelaskan apakah pimpinan pasukan AS dan Irak akan menempatkan pasukan di Mosul dan kota-kota besar di Suriah dalam beberapa bulan ke depan.
Trump juga mengkritik presiden pendahulunya, Barack Obama, karena dianggap gagal melakukan aksi signifikan dalam menangani rezim Assad yang kerap menggunakan senjata kimia dalam konflik Suriah.

Meski Trump dan beberapa pakar politik kerap mengkritik Obama karena tidak melakukan intervensi militer di Suriah, di sisi lain Kongres AS menolak hal tersebut.
"Padahal dia punya kesempatan bagus (untuk melakukan intervensi di Suriah)...dan fakta bahwa ia tidak melakukannya adalah sebuah kekecewaan, baik bagi Suriah dan sejumlah negara lain di dunia. Saya rasa itu bukan momen terbaik AS sebagai negara," imbuh Trump.
Namun kini, AS berniat untuk melakukan intervensi di Suriah, meski belum diketahui bentuk intervensi seperti apa yang akan dieksekusi.

"Sekarang saya punya tanggung jawab, dan saya akan melaksanakan tanggung jawab itu dengan bangga," tambah Trump. 
Pada kesempatan yang sama, Raja Yordania Abdullah II bin Al-Hussein menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Suriah merupakan kegagalan diplomasi dari banyak negara yang terlibat pada perang sipil itu.

"Situasi di Suriah dan serangan gas itu, sayangnya, seperti saya dan Anda (Trump) setujui, merupakan bukti kegagalan diplomasi internasional untuk menemukan solusi dalam krisis tersebut," tambah Raja Yordania itu. 

Raja Abdullah menjelaskan bahwa konflik yang telah berlangsung selama tujuh tahun itu kini menjadi sebuah perang kebijakan dari sejumlah negara yang setengah hati untuk memberikan bantuan. Dan, warga sipil yang lagi-lagi paling dirugikan. 

"Itu terjadi dalam pengawasan kita, dalam kesadaran kita sebagai sebuah komunitas internasional, dan saya memahami betul gelora presiden (Trump) untuk tidak menoleransi kejadian itu. Dan saya yakin, penghinaan terhadap kemanusiaan semacam itu bukanlah sesuatu hal yang dibiarkan presiden (Trump) begitu saja...saya sepenuhnya mendukung tindakannya," tegas sang Raja. 
Pembahasan mengenai Suriah dan situasi Palestina-Israel yang seluruhnya berada dekat dengan wilayah Yordania, menjadi topik utama pertemuan Presiden Trump dan Raja Abdullah. 
Raja Abdullah, sebagai representasi sejumlah negara Timur Tengah menyampaikan pesan tentang perlunya pembaruan kebijakan mengenai pakta perdamaian Israel dengan Palestina dengan melibatkan bangsa Arab dan muslim. Pakta itu nantinya akan berisi tentang rencana pembentukan negara Palestina.

"Stagnasi perdamaian Israel-Palestina merupakan sumber masalah di Timur Tengah...dan perhatian Trump untuk membicarakan ini membawa angin segar bagi kami," imbuh Raja Abdullah.
Kemungkinan baru untuk membicarakan perdamaian antara Israel dengan Palestina dan membuat sebuah pakta tentang Timur Tengah merupakan isu-isu yang kerap dihindari para presiden pendahulu Trump. 

Trump mendeklarasikan dirinya sebagai sekutu dekat Israel dan telah bertemu dengan PM Benjamin Netanyahu di Gedung Putih. Ia memiliki visi alternatif untuk mendamaikan Israel dengan Palestina.
Dan baru-baru ini, Trump terlihat banyak melakukan langkah terukur pada isu Palestina -Israel, salah satunya dengan menghambat pembentukan pemukiman Israel di wilayah konflik dan berjanji untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerusalem. 

Pembicaraan seserius itu belum pernah dilakukan sejak tahun 2009 saat Netanyahu terpilih sebagai PM Israel.

Pokemon Go Turunkan Angka Bunuh Diri di Jurang 'Maut' di Jepang?


Jepang adalah salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Menurut survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan, orang dewasa yang berpikir tentang bunuh diri jumlahnya 23,6 persen pada 2016. Angka tersebut naik dari 19,1 persen pada 2008 dan 23,4 persen pada 2014.

Atau dengan kata lain, hampir satu banding empat orang dewasa Jepang mempertimbangan secara serius untuk melakukan bunuh diri.

Namun, pada tahun ini, salah satu titik yang menjadi lokasi favorit sebagai tempat bunuh diri di Jepang mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Anomali ini diduga akibat salah satu aplikasi permainan berbasis telepon genggam, Pokemon Go. 
Jurang Tojinbo di Prefektur Fukui terkenal dengan keindahan jurang basal tinggi nan curam yang menjulang dari dasar Laut Jepang. Nahasnya, jurang itu menjadi lokasi favorit untuk bunuh diri. 
Namun, pada tahun 2017 ini, angka bunuh diri yang terjadi diindikasikan mengalami penurunan. 
Hingga April 2017, belum ada laporan dari pihak berwenang mengenai bunuh diri yang terjadi pada Jurang Tonjibo. 

Mari bandingkan dengan tahun sebelumnya. 
Sepanjang tahun 2016, dilaporkan 14 kasus bunuh diri terjadi di Jurang Tonjibo. Sementara itu, pada tahun 2015, ada 12 orang yang memutuskan meregang nyawa di jurang itu.

Dan, memasuki bulan ke-4 pada tahun 2017, belum ada satu pun orang yang 'terjun bebas' di Jurang Tonjibo. Maka, di penghujung tahun nanti, rata-rata angka bunuh diri di jurang nahas itu akan mengalami penurunan drastis jika dibandingkan dengan dua tahun sebelumnya.

Seorang veteran polisi yang terkenal sebagai petugas yang seringkali mencegah kasus-kasus bunuh diri di Jurang Tonjibo, Yukio Shige, berteori bahwa penurunan itu disebabkan oleh Pokemon Go.
Kehadiran aplikasi permainan berbasis telepon pintar itu sempat mengguncang dunia pada tahun 2016 lalu.

Permainan itu menuntut si pemain untuk menangkap pokemon, kumpulan hewan-hewan fiktif menggemaskan.

Satu hal yang menjadi permainan ini mengguncang dunia adalah, platform yang ditawarkan aplikasi itu memanfaatkan simulasi dunia nyata melalui global positioning system yang ditampilkan pada layar telepon genggam si pemain.

Sehingga, telepon genggam si pemain seakan-akan menyimulasikan sebuah alat pendeteksi pokemon. Uniknya, si pemain harus benar-benar berjalan, keluar rumah, atau bepergian ke banyak tempat untuk dapat menangkap pokemon yang tersebar di beberapa lokasi di penjuru kota. 

Dan, Jurang Tonjibo merupakan salah titik yang ramai dikunjungi pemain Pokemon Go di Jepang. Ini disebabkan karena tempat itu banyak menyimulasikan pokemon yang dapat ditangkap oleh si pemain.
Penurunan angka rerata bunuh diri di Jurang Tonjibo diduga disebabkan oleh meningkatnya pengunjung demi menangkap pokemon. Karena jurang itu telah ramai, para 'perenggut nyawa sendiri' akan enggan memilih Jurang Tonjibo untuk melakukan aksinya.

"Karena, orang yang akan melakukan bunuh diri cenderung memilih tempat yang sepi dan jarang dikunjungi orang," ujar Vicki Skorji dari Tell Lifeline, sebuah firma ahli kesehatan jiwa Jepang, seperti yang dikutip BBC, Kamis, (6/4//2017).

Shige juga berharap agar tren seperti ini dapat terus menurun hingga ke angka nol.
"Efek Pokemon Go sangat besar...aku harap kita dapat meneruskannya hingga turun ke angka nol," ujar Shige.
Tak hanya di Jurang Tonjibo, tren penurunan angka bunuh diri mulai berdampak pada seantero Jepang. Pada satu dekade lalu, angka bunuh diri di Jepang dapat mencapai angka sekitar 33.000, angka tertinggi untuk Negeri Sakura. Pada dekade ini, angka itu mengalami penurunan drastis hingga 21.000.

Bunuh diri di Jepang merupakan fenomena yang santer terjadi. Faktor-faktor yang meningkatkan stresor seseorang, seperti masalah pada sekolah, masalah pada pekerjaan, dan masalah finansial, merupakan isu yang kerap dihadapi oleh warga Negeri Matahari Terbit. 

Pakar kesehatan jiwa menekankan agar individu dan pemerintah tidak menyepelekan isu kesehatan jiwa. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk menekan angka bunuh diri di Jepang hingga ke batas paling minimum.

Dan, sebesar apapun penurunan angka bunuh diri yang terjadi, orang-orang seperti Yukio Shige akan tetap siap sedia di seantero Jepang, untuk menolong dan menawarkan bantuan kepada para calon 'perenggut nyawa sendiri'.

Rabu, 05 April 2017

RI Siap Berbagi Ilmu Rekonsiliasi ke Afghanistan


Presiden Joko Widodo mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Istana Merdeka, Jakarta. Dalam pertemuan ini beberapa perjanjian disepakati, salah satunya adalah tawaran untuk berbagi pengalaman soal rekonsiliasi.

"Indonesia menyambut baik upaya yang dilakukan pemerintah Afghanistan, dalam upaya menciptakan stabilitas dan kedamaian. Dan Indonesia siap berbagi pengalaman mengenai rekonsiliasi perdamaian," kata Jokowi saat memberikan pernyataan pers bersama di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/4/2017).

Peran Indonesia di Afghanistan memang bukan kali ini saja. Sebelumnya, RI telah membangun Indonesia Islamic Center di Kabul. Bangunan ini dilengkapi dengan sarana ibadah, kesehatan, dan pendidikan untuk masyarakat Afghanistan.

Masjid Assalam berkapasitas 2.200 jamaah pun baru selesai dibangun.
"Indonesia Islamic Center visi nya mendorong penyebaran Islam yang rahmatan lil alamin," imbuh Jokowi.

Indonesia juga sudah mengadakan pelatihan kepada 358 orang dalam 47 program kerja sama dengan Afghanistan. Kerja sama ini meliputi bidang pertanian, pemberdayaan perempuan, dan administrasi pemerintahan. Ke depan, peningkatan kapasitas ini akan diperluas ke bidang hukum, perumahan, pekerjaan umum, kebijakan fiskal, dan pendidikan tinggi.

Jokowi juga ingin kerja sama pedagangan ditingkatkan. Peluang kerja sama ini harus disambut dengan interaksi langsung antara pengusaha Indonesia dengan Afghanistan.

Kerja sama di bidang pemilu juga menjadi perhatian. Afghanistan rupanya ingin belajar bagaimana menyelenggarakan pesta demokrasi rakyat yang damai dan lancar serta terbuka seperti di Indonesia.
"Saya berharap kiranya implementasi terhadap 5 MoU yang baru saja ditandatangani dapat segera dilakukan," pungkas Jokowi.

Selasa, 04 April 2017

Korban Serangan Senjata Kimia Suriah Capai 70 Orang


Korban jiwa dampak serangan senjata kimia berupa gas beracun di Khan Sheikhoun, Idlib, Suriah bertambah menjadi total 70 orang, 10 diantaranya adalah anak-anak.

Jumlah ini bertambah dua kali lipat dari laporan awal. Angka ini diestimasi oleh Aleppo Media Centre.

Jika digabungkan dengan korban luka, serangan nahas itu menimbulkan ratusan korban.
Jumlah korban sebenarnya masih fluktuatif. Beberapa lembaga pemerhati konflik Suriah melaporkan 70 total korban jiwa dan korban luka-luka.

Sementara itu, Syrian Observatory for Human Rights, lembaga HAM asal Inggris, menghitung jumlah korban sebesar 58 orang. Lembaga lain, seperti The High Negotiations Committee, menghitung jumlah korban mencapai angka 100 orang.

Serangan senjata kimia tersebut terjadi pada Selasa, 4 April 2017, pagi hari waktu setempat.
Kantor berita Barat menduga serangan itu didalangi oleh militer Suriah serta Rusia sebagai koalisi Presiden Bashar al-Assad. 

Namun, kedua pihak membantah terlibat dalam serangan itu, seperti yang diberitakan CNN, Rabu, (5/4/2017). Presiden al-Assad mengaku pasukannya tidak menggunakan bahan gas kimia dalam peperangan.

Sementara itu Rusia berdalih tidak mengoperasikan pesawat pengebomnya saat serangan terjadi. 
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menyalahkan rezim Barack Obama yang dianggap lemah dan tidak mampu memberikan resolusi konflik di Suriah.

"Serangan yang menimbulkan korban tidak bersalah ini sangat mengguncang dunia...Obama sempat mengatakan akan menghapuskan penggunaan senjata kimia dalam konflik di Suriah. Namun, lihat, ia tak melakukan apa-apa," ujar Donald Trump. 

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson juga ikut mengomentari serangan ini.
"Jika terbukti rezim al-Assad sebagai dalang serangan, sungguh, mereka telah melakukan sebuah kejahatan perang," kata Johnson. 


Senin, 03 April 2017

Heboh Nenek Bawa Ikan Segar dalam Tas Mewah Rp 15 Juta


Rupanya kasih sayang nenek kepada cucu melebihi segalanya. Tak peduli tas seperti apa yang dipakai, yang penting aman membawa ikan-ikan segar kepada cucunya.

Kisah itu bukan isapan jempol melainkan terjadi di Taiwan. Sang cucu sendiri yang menceritakan pengalaman itu dalam sebuah situs berbagi Dcard website dan menjadi viral.

Sang cucu mengatakan, neneknya tak peduli harga tas yang ia berikan kepadanya untuk membawa ikan dan sayuran segar lainnya.

Tas yang diberikan cucunya itu merupakan tas klasik Louis Vuitton. Di pasaran Asia, harganya dibanderol US$1.110 atau sekitar Rp 15 juta.

Dikutip dari BBC, Selasa (4/4/2017), sang nenek dengan semangat mengatakan kepadanya tas baru pemberian cucunya itu sangat kedap air, namun sedikit berat.

Postingan itu menjelaskan sang nenek adalah sosok yang selalu menggunakan tas dari baru hingga butut selama bertahun-tahun. Jadi, sebagai cucu yang berbakti, ia ingin memberikan tas yang bagus dan mahal kepada sang nenek.

Cucu pria dalam postingan itu menulis, "aku tak bisa berkata apa-apa saat melihat nenek melambaikan tangan dengan tas dari aku yang penuh dengan ikan segar dan sayur mayur. Aku memutuskan untuk diam saja dan tak menyalahkannya setelah melihatnya ia begitu bahagia."

Postingan itu menjadi viral di Taiwan. Lebih dari 31.000 likes diberikan oleh para pengguna.
Salah satunya berkomentar, "nenek kamu pasti seorang yang sangat fashionable di pasar. Ia berjalan bak di catwalk, bahkan ikan itu nilainya menjadi naik karena dibawa dengan tas semacam itu."

Sementara akun lainnya menulis bahwa koper Louis Vuitton selamat saat kapal Titanic tenggelam dan karam.
Akun itu mengakhiri postingannya dengan mengatakan, "tak heran jika LV memiliki reputasi bagi, karena bisa bertahan sangat, sangat lama."

Minggu, 02 April 2017

Ilmuwan Ungkap Pasir Bermuatan Listrik di Bulan Terbesar Saturnus


Eksperimen yang dilakukan di Georgia Institute of Technology menemukan bahwa partikel yang menutupi permukaan bulan terbesar Saturnus, Titan, bermuatan listrik.
"Jika Anda membangun istana pasir di Titan, kemungkinan akan tetap kokoh selama beberapa minggu karena muatan elektrostatis," ujar Profesor dari Georgia Institute of Technology (Georgia Tech), Josef Dufek, yang terlibat dalam penelitian tersebut.

"Setiap pesawat anatriksa yang mendarat di daerah berpasir di Titan, akan sulit untuk tetap bersih," imbuh dia.
Temuan yang telah dipublikasi di jurnal Nature Geoscience tersebut, dapat membantu menjelaskan fenomena aneh yang terjadi di Titan. Di sana, angin kencang berembus dari timur ke barat. Namun bukit berpasir setinggi 91 meter justru terbentuk dalam arah berlawanan.

"Kekuatan elektrostatis meningkatkan ambang gesekan," ujar pemimpin peneliti yang merupakan mahasiswa doktoral geofisika dan teknik elektrik di Georgia Tech, Josh Mendez Harper.
"Ini membuat butiran pasir sangat lengket dan kohesif sehingga hanya angin sangat kencang yang mampu memindahkannya. Angin yang terjadi pada umumnya tak begitu kencang untuk membentuk bukit pasir," imbuh dia.

Untuk menguji partikel dengan kondisi seperti di bulan Saturnus itu, para peneliti membangun alat eksperimen kecil dengan tekanan yang telah dimodifikasi di laboratorium Georgia Tech.
Mereka kemudian memasukkan butiran naftalena dan bifenil--dua senyawa beracun, karbon, dan hidrogen yang diyakini terdapat di permukaan Titan ke dalam sebuah tabung kecil.
Silinder tersebut kemudian diputar selama 20 menit dalam lingkungan nitrogen murni dan kering (atmosfer Titan terdiri dari 98 persen nitrogen). Kemudian, mereka mengukur sifat-sifat listrik dari setiap butir yang keluar dari tabung.

"Semua partikel menjadi bermuatan listrik, dan sekitar 2 sampai 5 persen tidak keluar dari tabung," ujar Mendez Harper.

"Mereka menempel di dalam dan terjebak bersama-sama. Ketika kita melakukan eksperimen yang sama dengan pasir dan abu vulkanik dan dilakukan di lingkungan mirip Bumi, semua butiran keluar dari tabung. Tak ada yang terjebak," jelas dia.

Meski pasir di Bumi bermuatan listrik ketika mengalami gesekan, namun besar muatannya kecil dan menghilang dengan cepat. Namun hal tersebut tak berlaku bagi materi di Titan. "Materi non silikat ini dapat menjaga muatan elektrostatisnya selama berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan berblan-bulan dalam gravitasi rendah," ujar seorang mahasiswa pascasarjana di School of Earth and Atmospheric Sciences, George McDonald, yang turut menulis artikel ilmiah.

Secara visual, Titan merupakan obyek di Tata Surya yang paling mirip dengan Bumi. Data yang dikumpulkan dari Cassini sejak 2005, telah mengungkap keberadaan cairan dalam jumlah besar di kutubnya, dan juga pegunungan, sungai, dan gunung yang berpotensi berapi.

Namun bukan samudra berisi air yang berada di bulan Saturnus itu, namun metana dan etana yang berasal dari hujan oleh awan berisi hidrokarbon. Jika berada di permukaannya, rasanya sama seperti saat kita berdiri di kedalaman 4,5 meter di bawah permukaan air di Bumi--bertekanan lebih tinggi.